Headlines News :
Home » » Hikmah Kejujuran

Hikmah Kejujuran

Written By Pers Al-Hikam on Sabtu, 05 Januari 2013 | 23:29



Bangsa Indonesia kini sedang mengalami krisis multidimensi. Mulai dari krisis etika, krisis moral, krisis penegakan hukum, krisis sosial, krisis politik, krisis keadilan, krisis kewibawaan, krisis kepemimpinan, sentimen kedaerahan, daerah minta merdeka hingga disintegrasi bangsa tampak jelas terlihat di hadapan anak-anak bangsa sebagai generasi penerus di masa depan. Hal yang mendasari banyaknya krisis tersebut tidak lain adalah kurangnya sikap jujur baik dari para pemimpin secara khusus maupun masyarakat Indonesia secara umum.
Kehidupan yang semakin keras dan penuh persaingan, telah membawa kepada sikap pragmatis dengan menanggalkan kejujuran dan menghalalkan segala cara untuk meraih kemewahan dan kesenangan materi. Di kalangan masyarakat terdapat sebuah pandangan yang mengatakan kalau orang berperilaku jujur dan lurus maka dia akan dijauhi, tidak disukai, dan hidupnya susah. Paradigma semacam ini harus dihilangkan. Kejujuran seakan sudah menjadi barang mahal di zaman kita sekarang. Banyak orang begitu mudahnya berbohong, tanpa merasa bahwa akan ada konsekuensi yang jelas merugikan dirinya sendiri dan orang lain dari kebohongan yang dilakukannya. Jika kita mengikuti kabar berita baik media cetak maupun elektronik setiap harinya, kita akan mendapati begitu banyaknya tindak pidana korupsi yang tidak pernah selesai di negeri ini, hal tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai kejujuran semakin menipis di tengah masyarakat Indonesia.
Allah berfirman dalam surah at-Taubah ayat 119 : “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwa-lah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur”.  Suatu perintah yang sangat indah. Yang tentu saja akan membuat kita selalu dalam kebaikan. Sungguh, kejujuran adalah sesuatu yang akan berbuah dengan berbagai kebaikan.
Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada syurga. Dan seseorang senantiasa jujur, maka di-catat disisi Allah sebagai seorang yang jujur. Sementara kebohongan akan mengantarkan ke-pada kedurhakaan, dan kedurhakaan mengantar-kan kepada neraka. Seseorang yang senantiasa berbohong sampai dicatat baginya sebagai seorang pembohong”.
Seseorang yang senantiasa berbohong bisa menjadi pembohong karena ia akan melakukan kebohongan lanjutan untuk menutupi kebohongan yang disampaikan sebelumnya. Sedangkan se-orang yang jujur, justru akan merasakan ketenangan dalam jiwanya. Tidak ada sedikit pun keraguan karena adanya pertolongan Allah.
Rasulullah bersabda :
“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu menenangkan dan kebohongan membuat gelisah”.
Dari Abi Sofyan Shohri, Rasulullah memerintahkan :
“Sembahlah Allah sebagai satu-satunya (Rabb), janganlah sekutukan Ia dengan sesuatu apapun. Dan tinggalkanlah apa yang dikatakan oleh bapak-bapak kalian (dari kesyirikan). Dan ia memerintahkan kita untuk melaksanakan sholat dan jujur”.
Berdasarkan dalil di atas maka terlihat bahwa kejujuran akan memberikan pengaruh positif yang sangat banyak dalam hidup kita. Oleh karenanya, sebagai seorang yang beriman, hendaklah kita menjaga sifat jujur ini.
Bangsa Indonesia adalah bangsa panutan. Rakyat selalu melihat keatas, kalau para pemimpinnya jujur dan taat, maka rakyatnya akan meniru mereka. Sebaliknya kalau tidak jujur, maka rakyat akan menjadi tidak jujur dan kehilangan panutan. Akibatnya, rakyat meneladani yang mereka lihat di televisi dan di lingkungannya. Inilah yang dialami bangsa Indonesia. Maka untuk memperbaiki dan menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia, sudah saatnya para pemimpin di semua tingkatan, para birokrat/pegawai, dan pejabat negara, haruslah mencontoh dan meneladani kejujuran Nabi Muhammad Saw. dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari.
Kalau hal itu dilakukan, maka rakyat akan mencontoh kepada para pemimpin dan inilah awal munculnya pemerintah yang bersih. Pemerintah yang bersih merupakan syarat mutlak terciptanya masyarakat adil dan makmur yang menjadi tujuan Indonesia merdeka.
Secuil kisah yang cukup inspiratif mengenai sebuah kejujuran yang dilakukan oleh seorang bocah, berkat kejujurannya ia mampu membuat orang lain sadar dan insaf dari kesalahannya
Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani semasa berusia 18 tahun meminta izin ibunya merantau ke Baghdad untuk menuntut ilmu agama. Ibunya pun tidak menghalangi cita-cita murni Abdul Qadir meskipun keberatan melepaskan anaknya berjalan sendirian beratus-ratus kilo.
Sebelum pergi ibunya berpesan supaya jangan berkata bohong dalam keadaan apapun. Ibunya membekali uang 40 dirham dan menyimpannya di dalam pakaian Abdul Qadir. Selepas itu ibunya melepaskan Abdul Qadir pergi bersama-sama satu rombongan yang kebetulan hendak menuju ke Baghdad.
Dalam perjalanan, mereka dihadang oleh 60 orang perampok dan merampas seluruh harat kafilah secara bergilir, namun saat tiba giliiran Abdul Qadir, mulanya para perampok mengira ia tidak memiliki apa-apa. Salah seorang perampok bertanya kepada Abdul Qadir akan sesuatu yang ia punya. Abdul Qadir menjawab tanpa keraguan bahwa di dalam sakunya yang di jahit terdapat uang 40 dirham. Perampok itu terherankan oleh pengakuan Abdul Qadir kemudian melaporkan hal tersebut kepada ketuanya. Pakaian Abdul Kadir dipotong dan didapati uang sebagaimana yang ia akui.
Ketua perampok pun bertanya mengapa Abdul Qadir berkata jujur meski ia tahu uangnya akan dirampas? Dengan tenang Abdul Kadir menerang-kan bahwa sebelum berangkat ibunya berpesan agar ia tidak berbohong meski dalam keadaan apapun. Tatkala mendengar itu, ketua perampok menangis dan menginsafi kesalahan yang telah lama ia perbuat. Saat itu juga sang ketua bersumpah tidak akan merampok lagi. Dia bertaubat di hadapan Abdul Qadir muda diikuti oleh pengikut-pengikutnya”.
Sebuah kata indah dari sahabat Ali bin Abi Thalib karamallahuwajhah :
“aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas keimanan, keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan…
banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman…
ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian…
ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis, ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi…
ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat, dan ada yang menangis karena kufur nikmat…
ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat, ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut…
ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan, dan ada pelacur yang tampil jadi figur…
ada orang yang punya ilmu tapi tak faham, ada yang faham tapi tak menjalankan…
ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh tapi tak tahu diri…
ada orang beragama tapi tak berakhlak, ada yang berakhlak tapi tak bertuhan…
lalu diantara semua itu dimanakah aku berada…???”
*Oleh Fathy Fathullah, Mahasiswa STKQ al-Hikam (Agktn 2)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Pers Al-Hikam - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template